Titik Nadir di Batas Garis
Di seberang tabir malam yang mematung,
Angin berbisik membawa serpihan namamu
Sebuah mantra purba yang haram kusebut di altar siang,
Namun menjelma doa yang membakar tiap jengkal malamku.
Kita adalah dua garis lurus yang dipaksa takdir bersimpangan,
Bukan untuk menyatu, melainkan saling melukai dalam diam.
Matamu adalah samudra tempat aku menenggelamkan sauh dosa,
Di mana setiap debar adalah ombak yang menghantam karam asa.
Betapa lancang rindu ini menyusup ke sela-sela larangan,
Laksana api yang menjilat-jilat pagar pembatas kesucian.
Kuajak bayangmu berdansa di atas bara penyesalan,
Menikmati racun rindu yang manis di bibir, mematikan di pelukan.
Biarlah waktu menjadi algojo yang paling kejam,
Yang menyayat sunyi tanpa meninggalkan bilur darah.
Sebab di hadapan semesta yang mengunci gerbang kita,
Rindu ini adalah kejahatan terindah yang kupelihara dengan pasrah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar